5 Cara Seimbangkan Karir dan Keluarga, Cegah Familyless!

karir dan keluarga

Modernis.co, Jakarta – Menyeimbangkan antara karir dan keluarga itu seringnya bikin orang tua serasa lagi dapat beban nyelametin umat manusia.

Tapi emang sih, posisi seperti ini tuh challenging banget. Harus mikir keras biar karir aman, mental health keluarga juga aman. Nggak broken broken.

Kita semua tahu, ngejar goal di kantor itu penting, tapi hadir seutuhnya buat keluarga juga wajib hukumnya kalau kamu udah mutusin buat nikah. 

Kalau mau tanya kasus-kasus anak yang kehilangan peran orang tuanya, coba tanya deh sama guru-guru. Kalau mau tanya kasus istri-suami kehilangan peran pasangannya, coba tanya deh sama tetangganya wkwk.

Intinya, pasti kita nggak mau kan, kalau sukses di kerjaan tapi malah kehilangan momen berharga di rumah? Rasanya kayak makan oreu udah dijilat, diputar, tapi nggak dicelupin.

Nah, ini dia 5 cara ampuh yang bisa kita terapkan biar hidup tetap seimbang dan keluarga bahagia luar dalam. Apa saja?

1. Tentukan Prioritas dan Batasan yang Jelas

Pertama, bikin prioritas harian, mingguan, bahkan bulanan. Dari jutaan tugas kantor dan keluarga, pilihin mana yang paling urgent dan berdampak besar.

Dengan tahu prioritas, kita jadi lebih mudah mengalokasikan waktu. Kalau udah, kasih batasan waktu yang bisa ngestrict kapan jam mikirin kantor dan kapan buat orang rumah.

Misalnya, matikan notifikasi kerja setelah jam 6 sore. Tujuannya biar waktu kita di rumah fokusnya ke keluarga aja. 

Nggak semua email kantor harus dibalas detik itu juga! Belajar bilang “tidak” pada request lembur yang enggak mendesak juga penting banget, lho. 

Batasan ini bukan cuma buat orang lain, tapi juga buat diri kita sendiri biar nggak gampang kegocek sama pekerjaan. Tiap saat ngurusin kerjaan?? Whatt? kamu bukan robot!

2. Komunikasi Harus On Point Sama Keluarga

Kunci harmonis itu ada di komunikasi. Kita harus terbuka sama pasangan dan anak-anak tentang jadwal dan tekanan kerja yang dihadapi. 

Jelaskan ke mereka bahwa ada hari-hari di mana kita harus all out di kantor, tapi pastikan mereka juga tahu kapan kita akan hadir seutuhnya.

Bagi tugas sama pasangan untuk mengurus anak atau rumah. Termasuk untuk melibatkan anak-anak dalam obrolan sederhana. Emak-bapak harus ada waktu buat ngobrol sama anaknya.

Dengarkan cerita mereka sepulang sekolah. Meskipun cuma sebentar, kualitas interaksi ini bikin mereka merasa dihargai. 

Saling mengerti dan mendukung di rumah itu modal utama buat ngadepin hecticnya dunia luar. Harusnya si hal gini udah direncanakan sebelum nikah ya?

3. Manfaatkan Teknologi untuk Efisiensi Waktu

Di era digital ini, teknologi bisa jadi bestie kita buat menyeimbangkan hidup. Jangan cuma pakai buat scrolling media sosial, tapi manfaatkan tools dan aplikasi untuk time management. 

Kita bisa pakai kalender digital buat mencatat jadwal penting atau tugas harian di rumah yang bisa diakses anggota keluarga. Nice!

Di tempat kerja, cari cara bekerja yang lebih smart, Pelajari shortcut, delegasikan tugas yang bisa didelegasikan ke staff. Sehingga, kerjaan bisa selesai lebih efisien.

Enaknya tuh kita bisa memangkas waktu kerja dan menyisakan energi lebih banyak buat di rumah. Ingat, produktivitas itu soal hasil, bukan soal berapa lama kita duduk di depan laptop!

4. Jadwalkan Quality Time

Kita harus tetapkan waktu khusus untuk quality time bersama keluarga, misalnya malam tanpa gawai di hari kerja atau aktivitas seru di akhir pekan. 

Buatlah ritual keluarga sederhana yang konsisten, seperti sarapan bareng atau membacakan dongeng sebelum tidur. Ritual ini menguatkan ikatan.

Selain untuk keluarga, kita wajib punya me time secara berkala. Me time itu bukan egois, tapi investasi kesehatan mental. 

Kita harus mengisi ulang energi biar nggak gampang burnout atau stress. Mau itu cuma 30 menit ngopi sambil dengerin musik, atau olahraga ringan, lakukan!  Saat kita sehat dan bahagia, kita bisa memberikan yang terbaik untuk karir maupun keluarga.

5. Fleksibilitas dan Adaptasi Adalah Kunci

Terakhir, kita harus menerima bahwa hidup itu nggak selalu berjalan sesuai rencana. Ada kalanya pekerjaan mendadak urgent atau anak mendadak sakit. 

Di sinilah fleksibilitas dan kemampuan beradaptasi jadi penyelamat. Jangan terlalu kaku sama jadwal yang sudah dibuat. Sehingga kita harus siap bergeser dan mengganti rencana.

Jika memungkinkan, ajukan opsi kerja fleksibel seperti remote working atau jam kerja yang disesuaikan. Diskusikan opsi ini dengan atasan dan tunjukkan bahwa fleksibilitas ini tidak akan mengurangi performa. 

Intinya, jangan takut berkreasi mencari solusi yang paling cocok buat situasi masing-masing. Ingat, mencapai keseimbangan itu perjalanan, bukan tujuan akhir. 

Kita kudu terus belajar dan beradaptasi agar bisa sukses di dua dunia yang beda ini, karir dan keluarga! Keep going der!

Itulah beberapa cara untuk menyeimbangkan antara kesibukan karir dan keluarga. Semua bisa berjalan dengan beriringan asalkan kamu berada pada hubungan yang hangat dan bersama orang yang tepat. (IF)

editor
editor

salam hangat

Related posts

Leave a Comment